Yayasan Taman Wisata Rohani (Yataro)
Welcome!
Yayasan Taman Rohani “Tugu yang Hidup” Keinginan Lama Ompung Dolok
Location
Saribu Dolok, Simalungun, Sumatera Utara
Pengabdian
Total
Seluruh hidupnya didedikasikan untuk melayani Tuhan melalui pelayanan kepada sesama manusia.
Kepedulian & Kepekaan Sosial
Memiliki rasa empati yang tinggi terhadap kondisi warga sekitar, terutama dalam melayani umat.
Kesalehan
Iman
Menjadi panutan melalui tindakan nyata, bukan sekadar perkataan.
Kedekatan dengan Umat
Ia memilih tinggal dan berpusat di Saribudolok karena letaknya yang strategis untuk menjangkau masyarakat pelosok.
Chapter / 01
Elpidius dilahirkan sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara di Erp, sebuah kota kecil di bagian selatan Belanda. Kota ini juga adalah kota kelahiran teolog Henricus Herp yang karyanya, Spieghel der Volcomenheit, dikenal luas di Universitas Leiden. Orang Tua Elpidius adalah petani yang bekerja di ladang pertanian yang mereka sewa.
Elpidius dilahirkan sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara di Erp, sebuah kota kecil di bagian selatan Belanda. Kota ini juga adalah kota kelahiran teolog Henricus Herp yang karyanya, Spieghel der Volcomenheit, dikenal luas di Universitas Leiden. Orang Tua Elpidius adalah petani yang bekerja di ladang pertanian yang mereka sewa.
Chapter / 02
Tujuh tahun setelah Pater Elpidius menerima tahbisan imam, Pemerintah Hindia Belanda mencabut larangan masuknya misi Katolik di Tanah Batak. Mgr. Mathias Leonardus Trudon Brans segera mencari imam muda asal Belanda yang akan diutus sebagai misionaris ke Hindia Belanda. Pater Elpidius mendaftarkan dirinya sebagai misionaris untuk Hindia Belanda bersama kedua rekannya, Pater Nicodemus dan Pater Jan De Wit. Pater Nicodemus dan Pater Jan De Wit ditugaskan ke pulau Kalimantan, sedangkan Pater Elpidius ditugaskan ke pulau Sumatra.
Pater Elpidius menaiki kapal Johan De Amsterdam menuju Batavia. Ada dua misionaris lain yang ikut bersama Pater Elpidius dalam kapal itu, Pater Walterus Derksen dan Pater Odilo Wap. Pater Elpidius tiba di Belawan pada 16 Februari 1934 dan setelahnya ditempatkan di Pematangsiantar.[6] Di Pematangsiantar, Pater Elpidius mendapat pelajaran bahasa Batak dari Pater Aurelius Kerkers dan seorang katekis Batak bernama Kenan Mase Hutabarat.
Chapter / 03
Kedekatan Elpidius dengan umat dan semua warga yang ada di sekitarnya, tecermin dari sebuah julukan yang kini melekat dalam namanya. Oppung (kakek) adalah panggilan akrab warga setempat dan semua orang yang sempat mengenal dan meyaksikan teladan hidupnya. Dolok secara harfiah berarti “bukit”.
Namun kata tersebut kemungkinan besar merujuk pada wilayah Saribudolok, tempat tinggal misionaris yang hobi berjalan kaki dan naik sepeda ini. Dia dikenang dan namanya diabadikan karena secara tuntas telah memberi contoh dan teladan hidup tentang kesalehan (iman), kepedulian akan sesama dan kepekaan sosial sejak kehadirannya di tanah Simalungun secara khusus dan di Indonesia secara umum
About
Elpidius van Duijnhoven
R.P. Elpidius (Fransiscus) van Duijnhoven, O.F.M.Cap. (7 Oktober 1906 – 14 Februari 1993) adalah seorang imam Gereja Katolik Roma dan misionaris asal Belanda yang berkarya di Sumatera Utara, khususnya Kabupaten Simalungun dan sekitarnya.
