About Us

OPPUNG DOLOK

TENTANG

  • Ia lahir di Belanda pada 7 Oktober 1906 dan wafat di Pematangsiantar, Sumatera Utara pada 14 Februari 1993.

  • Di Simalungun, beliau dikenal sebagai Oppung Dolok — sebutan hormat yang berarti kakek dari bukit-bukit, karena pendekatannya yang dekat dengan masyarakat lokal serta pengabdiannya selama puluhan tahun.

 Namanya diabadikan sebagai nama sekolah, yakni SMA Van Duijnhoven di Saribudolok. Kisah hidupnya telah disusun dalam sebuah buku biografi karya Simon Saragih yang berjudul Elpidius Van Duijnhoven Oppung Dolok, Rasul Dari Simalungun Atas.

Elpidius van Duijnhoven,
Alias Oppung Dolok
Pengabdian Total
(Allah dan Manusia)
Seluruh hidupnya didedikasikan untuk melayani Tuhan melalui pelayanan kepada sesama manusia.
Kepedulian dan Kepekaan Sosial
Memiliki rasa empati yang tinggi terhadap kondisi warga sekitar, terutama dalam melayani umat
Kesalehan Iman dan Teladan Hidup
Menjadi panutan melalui tindakan nyata, bukan sekadar perkataan.
Kedekatan dengan Umat
Dikenal akrab dan merakyat, mencerminkan kerendahan hati seorang misionaris.
OPPUNG DOLOK

Elpidius van Duijnhoven,

Kedekatan Elpidius dengan umat dan semua warga yang ada di sekitarnya, tecermin dari sebuah julukan yang kini melekat dalam namanya. Oppung (kakek) adalah panggilan akrab warga setempat dan semua orang yang sempat mengenal dan meyaksikan teladan hidupnya. Dolok secara harfiah berarti “bukit”. Namun kata tersebut kemungkinan besar merujuk pada wilayah Saribudolok, tempat tinggal misionaris yang hobi berjalan kaki dan naik sepeda ini. Dia dikenang dan namanya diabadikan karena secara tuntas telah memberi contoh dan teladan hidup tentang kesalehan (iman), kepedulian akan sesama dan kepekaan sosial sejak kehadirannya di tanah Simalungun secara khusus dan di Indonesia secara umum. Sebuah ungkapan dari Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFM Cap (Uskup Agung Medan) kiranya tepat mewakili seluruh kesaksian tentang imam yang telah berpulang kepada Pencipta tahun 1993 ini:”Kita harus menyatakan komitmen bersama, seperti Oppung Dolok, mengabdi Allah dan manusia”.

SEMUA ORANG TERPANGGIL

St Bonaventura, yang saat kecil sakit kritis, dan sembuh karena didoakan St Fransiskus Assisi, kemudian menjadi pengikut paling fanatik Fransiskus Assisi. Bonaventura pun mendalami dan menuliskan proses kehidupan St Fransiskus Assisi dari seorang awam biasa, pendosa, menjadi orang suci. Tulisan-tulisan Bonaventura kemudian menunjukkan bagaimana cara oang-orang menuju Allah.

Tidak perlu terlalu religius pada awalnya untuk memulai pengenalan dan perjumpaan dengan Allah, demikian salah satu pesan Bonaventura dalam pendalaman teologinya yang dia tuliskan dalam buku “Itinerarum Mentis in Deum” (Perjalanan Jiwa Menuju Allah).

Akan tetapi semua orang harus menuju Tuhan, tak ada jalan lain. Lalu bagaimana orang-orang menuju Tuhan? Tidak perlu melewati pola St Fransiskus Assisi. Ada banyak cara menuju Tuhan.  Ada banyak cara untuk bertemu Tuhan.

Setiap kali memandang alam berpemandangan indah, menurut Bonaventura, itu akan membuat orang tremendum et fascinosum (tergetar dan kagum). Namun Bonaventura mengatakan, “Jangan terhenti pada mencintai alam indah, masukilah lebih dalam tentang siapa pencipta alam indah itu.”

Pengenalan dan perjumpaan dengan Allah ada banyak cara, termasuk lewat wahyu Allah, Bibel. Akan tetapi alam indah, adalah salah satunya, yang mendorong orang untuk mencari tahu, siapa “Sang Pencipta” hingga mencintai secara ekstasis Sang Pencipta

françois, claude (dit frère luc) saint bonaventure

Elpidius van Duijnhoven (Oppung Dolok)

Santo Fransiskus Assisi tidak pernah tahu apa yang hendak ia lakukan saat terpanggil menjadi pelayan Gereja. “Tunggu perintah-perintah SAYA berikutnya,” demikian kerap kata Allah kepada St Fransiskus Assisi seperti dituliskan pengikutnya, Pastor Thomas Celano, dalam buku “The Life of St Frances of Assisi”.

Santo Fransiskus adalah pendiri Ordo Fransiskan Minoritas (OFM) pada 1206. Ordo ini kemudian berkembang dan memiliki OFMCap. Ompung Dolok, Pastor Elpidius van Duijnhoven, kelahiran Erp, 7 Oktober 1906 dan wafat pada 14 Februari 1993, adalah seorang OFMCap.

 

Namun, Santo Fransiskus Assisi, terus dilanda kegelisahan. Ia konstan mendengar bisikan Allah. Maka kalimatnya yang sangat terkenal, “Ya Tuhan, apa sebenarnya yang Engkau inginkan untuk aku lakukan!” Ia tetap saja bingung.

Pernah Santo Fransiskus bermimpi menjadi tentara. Ia menangkap, mungkin inilah yang diinginkan Tuhan. Maka di Poleto, dalam perjalan menjadi tentara, ia mendengar bisikan, “Fransiskus, engkau hendak kemana?”

 

img 20250214 wa0173

KOMPOSI URUNG OPPUNG DOLOK (OD)

Dalam konteks ini, Urung OD yang indah di tanah permai, masuk kriteria sarana awal orang-orang berjumpa dengan Allah. Seperti kata Rasul Paulus, jangan menjadi berhala dengan memuja ciptaan-Nya semata, tetapi masuklah lebih dalam untuk mengenali Pencipta dan fokus pada misteri Pencipta.

Maka dalam deskripsinya, Mgr Kornelius Sipayung menuliskan Urung OD amat pas sebagai sarana berjumpa Tuhan Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap melukiskannya sebagai lokasi wisata apik, terdiri dari lokasi-lokasi bangunan berupa “Jalan Salib”, lokasi retret, diwarnai dengan patung-patung Yesus, Bunda Maria dan potret Ompung Dolok.

Lokasi tersebut direncanakan tidak hanya sebagai lahan kosong, tetapi sebagai kawasan yang hidup dan berpenghuni. Atas dasar pemikiran itu, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap, menggagas agar area tersebut dikembangkan secara terpadu dengan menghadirkan gereja, biara Klaris, pusat kegiatan Ordo Kapusin, serta berbagai aktivitas pastoral dan sosial lainnya di luar komunitas Klaris dan Kapusin.

Seiring dengan ditetapkannya sebagai kawasan pariwisata Super Prioritas oleh pemerintah, Urung OD diproyeksikan berkembang menjadi ikon wisata religius yang representatif di kawasan tersebut.Tempat ini dirancang terbuka bagi semua kalangan, sebagai ruang perjumpaan yang menghadirkan pengalaman spiritual—di mana setiap orang yang datang dapat menemukan keheningan, harapan, dan siapa tahu, berjumpa dengan Tuhan.

Keinginan Ompung Dolok

Sebelum Ompung Dolok menghembusnya nafas terakhirnya, Uskup Emeritus Alfred Gonti Pius Datubara bertanya.

“Ompung, apa permintaan terakhirmu. Mau kami bikin tugu untuk mengenangmu?” “Tugu boleh, tetapi haruslah tugu yang hidup. Kalau tugu mati, sekadar tugu, ya tidak usahlah.”

Ompung Dolok mau tugu hidup, yang tidak hanya membuat orang kagum pada Ompung Dolok. “Jangan lihat aku, tapi lihatlah Allah yang telah kuperkenalkan,” kata Ompung Dolok.

Dari semua ini muncul pertanyaan hipotesis. Mungkin Urung OD adalah tugu hidup, dambaan lama Ompung Dolok. Sebab setelah kepergiannya, pesan mistis yang pernah muncul dari Ompung Dolok, “Ingatlah selalu akan pendalaman Rohani, bukan sekadar bangunannya.”

p elpidius duinoven 68491d8334777c37800baa82

Para kekasihnya diberkati

Dalam perjalanan hidup dan setelah kepergian Santo Fransiskus Asisi, St Padre Pio, hingga Ompug Dolok, ada hal unik yang memiliki rekam jelas. Para kudus ini rupanya selalu memiliki the haves yang menopang misi mereka, walau mereka sudah tiada.

St Fransiskus Assisi memiliki seorang awam bernama “Lady Jacoba”, penopang program St Fransiskus setelah kepergian sang Santo. Padre Pio memiliki seorang Wanita Amerika Serikat, yang diminta Padre Pio dengan kalimat, “Kamu harus mendukung saya.”

oppung dolok jpg