Santo Fransiskus Assisi tidak pernah tahu apa yang hendak ia lakukan saat terpanggil menjadi pelayan Gereja. “Tunggu perintah-perintah SAYA berikutnya,” demikian kerap kata Allah kepada St Fransiskus Assisi seperti dituliskan pengikutnya, Pastor Thomas Celano, dalam buku “The Life of St Frances of Assisi”.
Santo Fransiskus adalah pendiri Ordo Fransiskan Minoritas (OFM) pada 1206. Ordo ini kemudian berkembang dan memiliki OFMCap. Ompung Dolok, Pastor Elpidius van Duijnhoven, kelahiran Erp, 7 Oktober 1906 dan wafat pada 14 Februari 1993, adalah seorang OFMCap.
Namun, Santo Fransiskus Assisi, terus dilanda kegelisahan. Ia konstan mendengar bisikan Allah. Maka kalimatnya yang sangat terkenal, “Ya Tuhan, apa sebenarnya yang Engkau inginkan untuk aku lakukan!” Ia tetap saja bingung.
Pernah Santo Fransiskus bermimpi menjadi tentara. Ia menangkap, mungkin inilah yang diinginkan Tuhan. Maka di Poleto, dalam perjalan menjadi tentara, ia mendengar bisikan, “Fransiskus, engkau hendak kemana?”
Lalu terjadilah dialog dengan Allah, bahwa mimpinya itu benar dari Allah, tetapi bukan untuk menjadi tentara, tetapi akan menjadi pasukan Tuhan sebagai teladan-Nya di dunia, yang saat itu sarat perpecahan. St Fransiskus Assisi kerap salah mengerti bisikan dan mimpi yang telah muncul padanya.

Kemudian ketahuan, seperti dituliskan Celano. Sebelum mengetahui pasti apa keinginan Tuhan padanya, St Fransiskus Assisi harus melewati banyak hal terlebih dahulu. Ia harus meninggalkan gaya hidup mewah remaja keturunan pedagang besar tekstil, Bernardone. Gaya hidup mewah ini ia tinggalkan.
Banyak rentetan pahit secara duniawi yang harus ia tinggalkan, termasuk meninggalkan keluarga. Maka ketika Bernardone berang karena Fransiskus membagi-bagikan kekayaan bapaknya pada orang papa, ia berkata, “Kini ada Bapakku di surga, engkau bukan lagi bapakku.”
Mulailah fenomena selanjutnya. Fransiskus memiliki gejala mistis, halusinasi. Ia sering berbicara sendiri dengan burung-burung, hewan, dan memuji bebungaan di alam indah. Fransiskus kemudian bahkan dicap telah menjadi “gila”.
Lebih pahit lagi dan semakin membuat bapaknya sangat prihatin, Fransiskus tinggal di gua-gua. Ia mencari, menemui dan menyalami kaum kusta. Pada satu kesempatan, Fransiskus bahkan mencium kaum kusta yang mendadak muncul di hadapannya dengan kalimat “Pax et Bonum”. Ia turun dari kudanya, lalu menyalam kaum kusta itu dan menciumnya serta-merta.
Setelah St Fransiskus kembali naik ke kudanya, ia tidak lagi melihat si kusta pengucap “Pax et Bonum” itu. Namun sejak itu ia semakin rindu dengan kaum kusta dan kaum miskin. Ia terinspirasi Bibel, “Bukankah Yesus memang mengembara, kadang menyendiri, hidup sederhana hingga miskin dan mengemis.”
Semanjak semua proses itu, Fransiskus menggelinyak bahagia. Ia ceria, berkotbah dan menarik perhatian khayalak hingga “menggegerkan” Vatikan. Ia kini telah diurapi Tuhan setelah melewati semua proses pahit. Namun ia kemudian merasa manis. “Dulu, apa yang kurasakan pahit, kini manis,” katanya setelah melewati proses menuju Tuhan. Ia menjadi pelayan Gereja dengan cara hidup dina.
Saat Fransiskus meminta restu Vatikan soal cara hidup miskin bersama kawanannya dan ditolak, ia berkata, “Apa susahnya hidup dengan cara kami. Bukankah burung yang tidak menuai menabur, Bukankah bunga lily yang tak bisa menganyam tetapi tampil elok.”
Kemudian ia diizinkan Vatikan memiliki kelompok sebagai mendicant (asal kata Latin: mendicare), pengkotbah jalanan. Sejak itu mewabah umat yang “kembali ke Gereja”. Hingga para Kardinal berkata, “Betapa malunya kita ini, tidak secemerlang orang miskin ini. Sebaliknya kita hidup mentereng dan megah.”
Bisikan Allah kepadanya, “Build My Church”, memang itulah tujuan Allah padanya. Rohani Gereja saat itu menuju runtuh, minim keteladanan. Itu tergambar dari mimpi Paus Innocent III, lewat bentuk bangunan Katedral Lateran yang dalam mimpi sang Paus terlihat miring dan hendak rubuh. Maka, Gereja harus kembali ke Rohani awal, menjadi penegak ajaran Yesus, termasuk lewat cara Fransiskus Assisi.
Dalam dialog Allah dengan St Catharine Siena muncul kalimat, “Fransiskus Assisi, manusia miskin-Ku. Tidak akan banyak yang memilih jalur hidupnya, walau semua jalur hidup saling melengkapi, bukan saling meniadakan.”
